SURAT CINTA BUAT KEKASIHKU

Sayang, aku tenang di sini karena ku yakin kau telah menerima hakikat ini dengan tabah dan bijaksana. Hentikan tangisanmu itu Demi ketenanganku di sini. Yakinlah, perpisahan sebenarnya bukan karena jauhnya jarak destinasi Tetapi oleh retaknya hati. Perpisahan ini, insya-Allah akan menyuburkan cinta… sekiranya kita menerimanya sebagai satu didikan Allah. Yakinlah, kita akan bertemu dalam suasana yang lebih indah dan manis. Perpisahan ini adalah mahar buat saat yang indah itu. 

Semoga perpisahan ini menguatkan jiwaku. Tiada obat jiwa yang paling mujarab kecuali mencintai Allah. Dan dengan cinta itu nanti semoga kita saling mencintai karena Allah – cinta yang lebih suci. 

 

Kita dipaksa berpisah untuk “dijemput” ke daerah tauhid dan syariat-Nya. Selama ini kita terlalu banyak bersandiwara dan bermain-main dengan berbagai alasan dan kemalasan. Aku pasrah dengan “paksaan” ini walaupun suntikannya terlalu sakit, obatnya pahit. 

Sayangku,Hadapilah kenyataan yang sudah termaktub sejak awal ini. Kesedihan dan air mata tidak akan meredakan hati apalagi menyelesaikan masalah. Aku senatiasa berdoa untukmu. 

Ya Allah…Ampunilah dosa-dosa kekasihku dan memaafkan semua kesalahannya. Kuatkanlah iman dan taqwanya… dengan Kau suburkan selalu dihatinya rasa hina, berdosa, jahil, lemah, miskin, berharap terhadap-Mu. 

 

“Ya Rahim…Berilah dia kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak kami kelak Agar ditangannyalah nanti tertempa buah hati kita yang soleh dan solehah. Bimbinglah kemarahannya, kebijaksanaannya, kesabarannya, kelembutannya, hukumannya dan segala-galanya dengan seimbang, agar dia terdidik untuk mendidik.” 

“Ya Rahman…Maniskanlah akhlak kekasihku semanis wajahnya. Hiasilah kata-kata dari lidahnya dengan kebenaran dan kelembutan, seperti Kau telah hiasi matanya dengan kecantikan. Berilah kecantikan dan keindahan hakiki dengan limpahan taqwa yang sejati.” 

“Ya Rabbi…Lembutkan hati kekasihku agar mudah ia mengadu-adu pada-Mu. Lenturlah jiwanya agar ia mudah merayu-rayu dan meminta-minta pada-Mu. Haluskanlah perasaannya agar dia mampu menangis dan merintih-rintih pada-Mu. Hancur dan remuk-redamlah dirinya dalam menerima didikan-Mu karena di situlah pembuktiannya dia sebagai hamba-Mu.” 

Sayang,Ramai pasangan berpisah karena putus cinta. Namun lebih ramai yang terpisah karena terlalu cinta. Bila cinta makhluk membelakangi cinta Allah, maka cinta itu akan kehilangan daya untuk bercinta sesamanya. Ia akan layu, kesepian dan sendiri. Pada cinta yang ilusi seperti ini… pertemuan adalah perpisahan. Tapi bila cinta itu cinta hakiki, terpisahkan pun masih bertemu. 

Justru, perpisahan ini untuk menyelamatkan. Perpisahan inilah yang akan menguatkan kembali ikatan perkawinan. Ia adalah satu “reaksi berantai” kepada semua yang ada ikatan dengan kita. Agar semuanya bergantung dengan ALLAH semata. Jangan kita bergantung dengan selain-Nya. 

Makhluk yang terhubung atas nama suami, isteri, ibu, bapa, anak, adik, abang, kakak, saudara, sahabat atau apa saja akhirnya akan pergi jua. Sesungguhnya, perpisahan adalah cara Allah menguji pergantungan hati kita dengan yang bernama suami, isteri, ibu, bapa, anak dan saudara. 

Hakikatnya saat itu pasti tiba. Kematian akan terjadi sewaktu-waktu. Ketika itu jika hati tidak ikhlas bersedia menerima… pedih dan sakitnya tentu sangat menusuk. Mungkin hilang kewarasan, mungkin luntur semangat, kecewa untuk meneruskan hidup. Dan paling mengkhawatirkan adalah terkikisnya iman, tergerusnya tauhid. 

Sayang… bergantunglah pada Allah karena hubungan kita dengan-Nya tidak akan dipisahkan dengan istilah janda, duda dan yatim. Sedangkan hubungan kita sesama manusia tidak dapat tidak, pasti diputuskan oleh MATI. Anggaplah perpisahan ini satu persiapaan untuk menghadapi saat mati yang sudah pasti datang. 

Syukur … karena dulu pernah terlintas, bagaimana nanti kalau salah satu dari kita dipanggil pulang oleh Allah? Apakah ketika itu hati akan ridha? Ah, lantaran benci merasainya, fikiran dikunci daripada memikirkannya…. Padahal itu sudah pasti. Oh! Tuhan, benci betul rupanya kita kepada mati. 

Angkuh betul kita dengan ‘milik’ pinjaman Allah ini. Seolah-olah isteri, suami, anak-anak dan lain-lain itu benar-benar kepunyaan kita. Terlalu berat untuk memulangkannya. Sebab ‘memulangkannya’ berarti berpisah! 

Tidak sanggup kita “pulangkan” kembali bila ketetapan pulangnya sudah tiba. Kini, alhamdulillah, pinjaman itu dipinta kembali oleh Allah buat sementara… aku diserahkan kembali olehmu, dan kau diserahkan kembali olehku kepada-Nya. 

Didikan ini sangat mahal harganya. Inilah intisari iman kita kepada satu ayat Quran yang sangat pendek:“Sesungguhnya kita kepunyaan Allah, dan kepada Allah kita akan dikembalikan.”Bersedialah untuk menghadapi yang terburuk akibat perpisahan ini. Namun jangan sekali-kali terputus dari berharap sesuatu yang terbaik. 

Doaku dan doamu pasti dicelahi oleh rasa bimbang takut tidak diperkenankan tetapi padamkanlah segalanya dengan satu keyakinan bahwa ia pasti diperkenankan. Amin. Yang penting… bukan diperkenankan atau tidak, tetapi semoga Allah tingkatkan kesabaran, keimanan dan tawakal kita menghadapi apapun takdir-Nya. 

kekasihku, jangan dipinta ringankan ujian, tetapi pintalah ‘beratnya’ iman untuk menghadapi ujian itu! 

 

salam,yang menantimu..

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s